fix
fix
OPINI & WAWANCARA
BBM, Politik dan Kepentingan Rakyat
Oleh : Fajar Kurnianto
JADWAL SHALAT   Subuh 05:29 WIB | Dzuhur 12:39 WIB | Ashar 15:59 WIB | Maghrib 18:40 WIB | Isya 19:46 WIB
Nusantara & Mancanegara

Parah, Ternyata UU SJSN dan BPJS Bukan Jaminan Sosial?

Diluar fakir miskin dan masyarakat tidak mampu, setiap warga negara wajib menjadi peserta BPJS Kesehatan dengan membayar iuran sebesar Rp.27.000,-/bulan. Sementara itu program Jamkesmas yang berlaku selama ini tidak perlu menjadi peserta dan membayar, dan
19 Oktober 2012 00:20:00 WIB

hur | red
Jakarta,POL

 

UU Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) dan UU Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) ternyata bukan jaminan sosial tapi lebih kepada asuransi sosial. Karenanya, banyak pihak yang terkejut, terutama peserta diskusi Front Nasional Tolak BPJS-SJSN di Sekretariat Bina Insan Muda (BIMA) yang mensosialisasikan hasil analisa dan pendalaman atas berlakunya UU Nomor 40 Tahun 2004 tentang SJSN dan UU Nomor 24 Tahun 2011 tentang BPJS tersebut.

Para peserta menyatakan bahwa selama ini banyak mendengar tentang issu jaminan sosial yang pemberitaannya mulai menghangat sejak akhir tahun 2011 yang disertai aksi demonstrasi yang dimotori serikat buruh diberbagai kota di Indonesia.

Sekretaris Umum DPP Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (SBSI) 1992, Yosafati Waruwu memaparkan,dari hasil analisa dan pendalaman atas kedua UU tersebut terungkap bahwa ternyata jaminan sosial khususnya jaminan kesehatan, ternyata hanya fakir miskin dan masyarakat tidak mampu yang pendapatannya kurang dari Rp.300.000,-/bulan dengan istilah Penerima Bantuan Iuran (PBI) yang dibiayai pemerintah melalui APBN.

"Diluar fakir miskin dan masyarakat tidak mampu, setiap warga negara wajib menjadi peserta BPJS Kesehatan dengan membayar iuran sebesar Rp.27.000,-/bulan. Sementara itu program Jamkesmas yang berlaku selama ini tidak perlu menjadi peserta dan membayar, dan biaya perobatan seluruhnya ditanggung pemerintah. Ini jelas diskriminatif dan memberatkan serta jika benar-benar jaminan sosial seharusnya untuk seluruh rakyat tanpa pendaftaran apalagi membayar," Yosafati, Jumat (19/10/2012).

Hal tersebut juga berlaku disektor perburuhan. Menurut Yosafati, buruh sangat dirugikan dengan berlakunya UU BPJS karena selama ini dalam UU Nomor 3 Tahun 1992 tentang Jamsostek, iuran Jaminan Pemeliharaan Kesehatan (JPK) sepenuhnya ditanggung pengusaha dengan besaran 3 % dari upah sebulan untuk buruh lajang, dan 6% dari upah sebulan bagi buruh berkeluarga. Tetapi dengan berlakunya UU SJSN dan UU BPJS, para buruh mesti mengalami pemotongan upah sebesar 2% dari upah sebulan

 Menurut Yosafati, pemerintah dan DPR semestinya sadar bahwa penyelenggaraan jaminan sosial menyangkut hajat hidup orang banyak, sama seperti listrik, air, beras, pupuk, minyak dan gas. Ini bentuk lain dari memprivatisasi (menswastakan) jaminan sosial berkedok Wali Amanah dan atau Badan Hukum Publik.

Harusnya dikelola negara dalam hal ini BUMN. Sangat disayangkan dengan alasan Jamkesmas dan Jamsostek selama ini tidak profesional bahkan dituduh tidak bersih, lantas lembaganya dibubarkan.

"Kalau begitu DPR juga dibubarkan atau lembaga-lembaga negara laiinya dibubarkan karena banyak yang dihukum karena korupsi. Masa gara-gara satu ekor tikus, satu rumah dibakar," katanya.

Lebih lanjut Yosafati menjelaskan bahwa Front Nasional Tolak BPJS-SJSN ini adalah wadah perjuangan serikat pekerja/serikat buruh dan lintas sektor massa rakyat.

Mereka bertekad dan berjuang agar UU SJSN dan UU BPJS dibatalkan dengan menggalang massa rakyat lainnya serta bersama-sama dengan buruh melakukan berbagai aksi massa di berbagai kota di Indonesia. Merka juga mengajukan uji materi (judicial review) kepada MK-RI serta mendesak Presiden R.I. untuk mengeluarkan Peraturan Pengganti Undang-undang (Perpu).


Print
Tinggalkan komentar....





EKONOMI DAN BISNIS


Industri Animasi Menjanjikan, Tapi Banyak Kendala

DALAM industry kreatif, Teknologi komputer 3D grafis dan visual efek yang canggih, menjadikan lahan yang menjanjikan.…
21 September 2014 08:57:00 WIB

Promosi ASEAN di Oslo, Kuliner dan Budaya Indonesia Jadi Favorit

PESONA tari Nandak Ganjen yang ditarikan lincah oleh Fatimah dan Safrini, serta pertunjukan angklung KBRI…
21 September 2014 06:00:00 WIB

Jepang Libas Tim Bulutangkis Putri

21 September 2014 05:03:00 WIB

Paris Hentikan Kebiasaan 'Gembok Cinta'

20 September 2014 20:41:00 WIB

Patut Ditiru, Rumah Murah Cara Vietnam

20 September 2014 20:00:00 WIB

Masjid Khusus Gay di Demo

20 September 2014 13:46:00 WIB

Google Maps Tambah Navigasi 19 Negara

20 September 2014 12:40:00 WIB

Akhir Pekan, Harga Emas Melesu

17 September 2014 12:25:00 WIB

Manusia Akan Semakin Pendek, Apa Sebabnya?

SETELAH ditemukan bukti fosil kuda memperkuat para ilmuwan menunjukkan bahwa manusia akan menjadi pendek dari sebelumnya…
17 September 2014 10:45:00 WIB

Kelompok IS Tembak Jatuh Pesawat Suriah

16 September 2014 22:20:00 WIB

Biadab, Aparat Cina Serang Sekolah Quran

17 September 2014 07:40:00 WIB

Real Madrid Pesta Gol 5:1 Atas FC Basel

21 September 2014 08:10:00 WIB

Said Didu: Situs BUMN Tampilkan Aktivitas DIrutnya

MANTAN sekretaris Kementerian BUMN, Said Didu mengungkapkan bahwa situs BUMN lebih banyak menampilkan aktivitas direktur utama dibandingkan…
21 September 2014 07:09:00 WIB

PKS Jadikan Parlemen Alat Dakwah

21 September 2014 06:41:00 WIB

Bagaimana Nasib Jamaah Haji Nonkuota ?

21 September 2014 01:31:00 WIB

Pusat Inkubasi Bisnis Syariah Diresmikan

20 September 2014 15:00:00 WIB

Gede Pasek: Anas Jadi Sasaran Salah Tembak ?

17 September 2014 11:00:00 WIB

Peserta XL Future Leader Raih Pengharggan Dari World Bank

OSCAR Baskoro, peserta program XL Future Leader (XLFL), meraih penghargaan Global Winner dari World Bank. Bersama…
17 September 2014 10:20:00 WIB

PDIP Gigit Jari, Gagal Memimpin DPR

17 September 2014 11:26:00 WIB

Depok Peringati Hari Mencuci Tangan Sedunia

17 September 2014 11:54:00 WIB

Panglima TNI Terima Dirut PT. Pos (Persero)

17 September 2014 12:00:00 WIB

Ormas Islam Dukung RUU Pilkada

17 September 2014 09:52:00 WIB

Hangatkan Rumah Dengan Permainan Warna

17 September 2014 09:20:00 WIB

Jokowi Cari Sosok Menteri Dari Profesional

IKLAN PALING BAWAH